relaxmody.com – Joan of Arc, atau Jeanne d’Arc dalam bahasa Prancis, adalah salah satu tokoh paling legendaris dalam sejarah dunia. Lahir sebagai gadis petani sederhana pada sekitar tahun 1412 di Domrémy, Prancis, ia menjadi pahlawan nasional yang memimpin pasukan Prancis meraih kemenangan krusial melawan Inggris selama Perang Seratus Tahun. Mengaku mendapat wahyu ilahi dari santo-santa, Joan yang saat itu berusia remaja berhasil membalikkan keadaan perang, membantu penobatan Raja Charles VII, tapi akhirnya ditangkap, diadili sebagai bidah, dan dibakar di tiang pancang pada usia 19 tahun. Kisahnya penuh inspirasi, kontroversi, dan misteri, menjadikannya simbol keberanian, iman, dan nasionalisme. Pada 1920, ia dikanonisasi sebagai santa oleh Gereja Katolik. Artikel ini mengupas perjalanan hidup Joan of Arc secara mendalam.

Kehidupan Awal dan Wahyu Ilahi

Joan lahir di desa kecil Domrémy, Lorraine, dari keluarga petani Jacques d’Arc dan Isabelle Romée. Saat itu, Prancis dilanda Perang Seratus Tahun (1337-1453), di mana Inggris mengklaim takhta Prancis dan menguasai sebagian besar wilayah utara. Pada usia 13 tahun sekitar 1425, Joan mulai mendengar suara-suara yang ia yakini dari Santo Michael, Santa Catherine, dan Santa Margaret. Suara-suara itu memerintahkannya untuk menyelamatkan Prancis dan membantu Dauphin Charles (putra mahkota) dinobatkan sebagai raja.

Awalnya dianggap gila oleh keluarga dan tetangga, Joan tetap teguh. Pada 1429, ia berhasil bertemu Charles di Chinon, meyakinkannya dengan “tanda ilahi” (detail rahasia yang hanya diketahui Charles). Charles kemudian mengizinkan Joan bergabung dengan pasukan, meski banyak komandan meragukan gadis petani buta huruf berusia 17 tahun itu.

Peran Militer: Kemenangan di Orléans dan Penobatan Raja

Joan memimpin pasukan Prancis dengan mengenakan baju zirah pria dan membawa panji bertuliskan nama Yesus dan Maria. Kemenangan pertamanya adalah Pembebasan Orléans pada Mei 1429, yang mematahkan pengepungan Inggris dan membalikkan moral pasukan Prancis. Serangkaian kemenangan berikutnya membuka jalan ke Reims, di mana Charles VII dinobatkan sebagai raja pada Juli 1429—momen krusial yang melegitimasi klaimnya atas takhta.

Joan dikenal karena keberaniannya di medan perang, sering memimpin serangan depan sambil membawa panji, bukan pedang. Ia juga menekankan disiplin moral pasukan, melarang sumpah serapah dan pelacuran. Meski bukan komandan resmi, karismanya menginspirasi tentara yang sebelumnya putus asa.

Penangkapan, Pengadilan, dan Eksekusi

Pada Mei 1430, Joan ditangkap oleh pasukan Burgundi (sekutu Inggris) di Compiègne. Dijual kepada Inggris, ia diadili di Rouen oleh pengadilan gereja yang dikendalikan Inggris atas tuduhan bidah, sihir, dan berpakaian seperti pria (yang dianggap melanggar hukum ilahi saat itu).

Pengadilan berlangsung berbulan-bulan, dengan Joan membela diri dengan cerdas dan tegas meski buta huruf. Ia akhirnya menandatangani pengakuan di bawah ancaman, tapi kemudian mencabutnya, menyatakan lebih taat kepada Tuhan daripada manusia. Pada 30 Mei 1431, Joan dibakar hidup-hidup di Rouen pada usia 19 tahun. Abu jenazahnya dibuang ke Sungai Seine untuk mencegah relikui.

Rehabilitasi dan Kanonisasi: Dari Bidah Menjadi Santa

Pada 1456, pengadilan ulang yang diprakarsai ibunda Joan dan didukung Paus Callixtus III menyatakan pengadilan 1431 tidak adil dan membatalkan vonis bidah. Joan direhabilitasi sebagai martir.

Pada 1920, Paus Benedict XV mengkanonisasinya sebagai santa, menjadikannya pelindung Prancis, tentara, dan tahanan. Hari rayanya dirayakan pada 30 Mei.

Warisan Joan of Arc: Simbol Nasionalisme dan Feminisme

Joan menjadi ikon nasional Prancis, terutama setelah Perang Franco-Prusia dan Perang Dunia. Ia digunakan sebagai simbol oleh berbagai pihak: dari monarkis hingga republiken, dari Katolik hingga sekuler. Di era modern, Joan dilihat sebagai feminis awal karena menantang norma gender dan memimpin pria di medan perang.

Kisahnya menginspirasi ribuan karya seni, buku, film (seperti The Passion of Joan of Arc 1928), dan drama. Kontroversi tetap ada: apakah visi ilahi nyata atau halusinasi? Apakah ia pionir militer atau korban politik?

Joan of Arc mengajarkan bahwa keyakinan kuat bisa mengubah sejarah, meski dari latar belakang sederhana. Dari gadis petani menjadi santa dan pahlawan, kisahnya tetap menginspirasi jutaan orang hingga kini sebagai teladan keberanian dan iman.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *