relaxmody.com – Suriname bukan negara yang sering muncul di percakapan travel, tapi begitu kamu tahu, kamu langsung ingin kesana. Ini satu-satunya negara di Amerika Selatan yang berbahasa Belanda, punya masjid dan sinagoge berdampingan sejak 300 tahun lalu, hutan hujan 94 % wilayahnya masih perawan, dan ibu kotanya (Paramaribo) masuk UNESCO World Heritage karena arsitektur kayu kolonial yang paling terjaga di dunia.
Fakta Cepat yang Bikin Kamu Takjub
- Luas: 163.820 km² (sedikit lebih besar dari Jawa Timur + Jawa Tengah)
- Populasi: hanya 620.000 orang (2025) → salah satu negara terjarang di dunia
- Ibu kota: Paramaribo (dibaca: Para–mari–bo)
- Bahasa resmi: Belanda (tapi hampir semua orang bilingual Sranan Tongo — kreol Inggris yang lucu)
- Mata uang: Suriname Dollar (SRD), 1 USD ≈ 33 SRD (Nov 2025)
- Agama: Kristen 48 %, Hindu 22 %, Islam 14 %, kepercayaan Maroon & Indigenous sisanya
- Julukan: “The Beating Heart of the Amazon”
Paramaribo: Kota Kayu yang Hidup dari Abad ke-17
Jalan-jalan di pusat kota seperti masuk mesin waktu. Bangunan kolonial Belanda seluruhnya dari kayu tropis (bukan batu seperti di tempat lain), putih bersih, dengan jendela hijau dan atap miring. Highlight wajib:
- Fort Zeelandia (benteng bintang 1667)
- Katedral St. Peter & Paul — katedral kayu terbesar di Amerika Latin
- Masjid Keizerstraat & Sinagoge Neveh Shalom (hanya dipisahkan jalan kecil, simbol toleransi luar biasa sejak 1685)
- Central Market di tepi Sungai Suriname — sarapan roti + kari ayam + jus markisa seharga Rp 25.000
Keberagaman yang Bikin Indonesia Iri
Suriname adalah “mini dunia”:
- Hindustani (keturunan India) → 27 % populasi, bawa kari, roti, dan festival Diwali terbesar di luar India
- Javanese (keturunan kontrak Jawa 1890–1939) → 14 %, masih masak tempe, tahu, gado-gado, dan ngomong dialek Ngoko kuno
- Maroon (keturunan budak Afrika yang kabur ke hutan) → punya 6 suku sendiri, bahasa & musik sendiri
- Chinese, Indigenous Amerindian, Creole, dan bahkan Lebanon
Hasilnya? Di satu meja makan keluarga bisa ada roti kana (India), saoto soup (Jawa), pom (Creole), dan kwie-kwie (Chinese). Di sekolah anak-anak ngomong Belanda, di rumah Sranan Tongo, dan neneknya bahasa Jawa kuno.
Alam yang Masih 94 % Perawan
- 94 % wilayah masih hutan hujan primer (tertinggi di dunia)
- Brownsberg Nature Park → 1 jam dari Paramaribo, air terjun + monyet + burung toucan
- Galibi Nature Reserve → pantai tempat 4 spesies penyu bertelur (Maret–Agustus)
- Central Suriname Nature Reserve (UNESCO) → 1,6 juta hektar, salah satu hutan hujan terbesar & terbersih di planet ini
- Raleighvallen → anaconda, jaguar, harpy eagle, dan sungai yang airnya bisa langsung diminum
Cara ke Sana dari Indonesia (2025)
- Rute termudah: Jakarta → Amsterdam (KLM) → Paramaribo (KLM/Suriname Airways), total 24–28 jam
- Visa: Indonesia bebas visa 90 hari (on arrival)
- Biaya hidup: sangat murah! Makan di warung Rp 30–50 ribu, hotel bagus Rp 500–800 ribu/malam
- Waktu terbaik: Februari–April & Agustus–November (musim kemarau)
5 Alasan Kamu Harus ke Suriname Sekali Seumur Hidup
- Melihat masjid dan sinagoge berdampingan sejak 300 tahun lalu (buktikan toleransi itu mungkin)
- Makan nasi goreng Jawa yang bumbunya lebih “ndeso” daripada di Indonesia
- Berenang di sungai Amazon yang airnya bening cokelat (bukan kotor, itu tanin alami)
- Tidur di hammock di tengah hutan sambil dengar suara katak + serangga yang bikin takut sekaligus tenang
- Pulang dengan cerita yang 99 % temanmu belum pernah dengar
Suriname adalah bukti bahwa negara kecil, terpencil, dan “aneh” bisa jadi salah satu tempat paling indah, ramah, dan penuh kejutan di planet ini.
